Jumat, 15 Oktober 2010

Jurnal Psikologi


Psikologi Jurnal
                                                                            Universitas Putra Indonesia “Padang”



────────────────────────────────────────────────────────

BENTUK KERJASAMA (COOPERATION)
PADA INTERAKSI SOSIAL WARIA

Alliya Syalsya Nofeta

Fakultas Psikologi
Universitas Putra Indonesia “Padang”
────────────────────────────────────────────────────────

ABSTRAKSI

Penelitian  ini dilakukan untuk mengetahui kerjasama  (cooperation) pada interaksi  sosial  waria  dengan  lingkungantempat  tinggalanya  guna mempertahankan  eksistensinya  mereka  sebagai  kaum  minoritas  agar  dapat diterima  masyarakat  setempat,  juga  untuk  mengetahui  faktor-faktor  yang mempengaruhi  kerjasama  tersebut.  Penelitian  ini  menggunakan  metodewawancara dan observasi. Subjek penelitian ini adalah waria yang berusia 22-35Tahun.Kerjasama adalah  suatu usaha antara orang perorangan atau kelompok manusia  diantara  kedua  belah  pihak  untuk  tujuan  bersama  sehingga mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. Interaksi sosial adalah suatu proses  dimana  individu  memperhatikan  dan  merespon  individu  lainnya menyangkut  hubungan  antara  orang  perorangan  atau  kelompok-kelompok manusia  dan  salaing  mempengaruhi  satu  sama  lain.  Sedangkan  waria  adalah seorang  yang  secara  fisik  laki-laki  tetapi  merasa  dirinya  perempuan  sehingga
berpenampilan  dan  bertingkah  laku  sebagai  perempuan  serta  dalam melakukan hubungan fisiknya (biologis) bertindak sebagai perempuan.Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa  terjadinya  interaksi social diklasifikasikan  dalam  empat  faktor  yaitu  faktor  imitasi  dimana  setiap  individu memiliki  sifat  kecenderungan  melakukan  seperti  yang  dilakukan  orang  lain.
Dalam  teori  sosiolog  dijumpai  bentuk  kerjasama  (cooperation)  yang dibedakan dalam kerjasama spontan  (spontaneous cooperation) yaitu kerjasama serta  merta,  kerjasama  langsung  (directed  cooperation)  dimana  kerjasama  initerjadi  dari perintah atasan atau penguasa.

Kata Kunci   : Kerjasama, Interaksi Sosial  dan Waria



Manusia  pada  hakekatnya  berperilaku  sesuai  dengan  keinginannya,kebutuhan  atau  suatu  dorongan.Di mana  pada  kenyataannya  setiap  manusia memiliki  aturan-aturan  tertentu  dalam  berprilaku. Aturan-aturan  tersebut  dalam masyarakat  disebut  norma  sosial.  Norma-norma  sosial  itu  mengikat  setiap anggota  masyarakat  untuk  berperilaku  sesuai  dengan  norma  yang  berlaku. Apabila ada anggota masyarakat yang tidak mentaati norma-norma sosial itu akan mendapatkan  sanksi  dari  masyarakat.  Ada  sebagian  kecil  kelompok  dalam masyarakat  yang  dianggap  tidak mentaati  norma-norma  sosial  yang  ada,  salahsatunya waria. Waria  adalah  seorang  yang  terlahir  sebagai  laki-laki,  kemudian berdasarkan  faktor  internal  dan  eksternal  orang  tersebut mempunyai  keinginan untuk  mengubah  identitas  kelaminnya  menjadi  seseorang  yang  menyerupai wanita baik 
Faiz (2004) menyataka bahwa waria adalah seorang pria yang secara psikis merasakan adanya ketidakcocokan antara jati diri yang dimiliki dengan alat kelaminnya, sehingga akhirnya memilih dan berusaha untuk memiliki sifat dan perilaku lawan jenisnya yaitu wanita. Fisik mereka laki-laki namun cara berjalan, berbicara dan dandanan mereka mirip perempuan.Puspitosari(2005)mendefinisikan waria sebagai seseorang yang secara jasmaniah jenis kelaminnya laki-laki namun secara psikis cenderung berpenampilan wanita.
Menurut  Soekanto  (2002)  bentuk-bentuk  interaksi  sosial  dapat  berupa kerjasama  (Cooperation),  persaingan  (Competition),  dan  pertikaian  (Conflic). Baron & Byane (2000),  menganggap bahwa kerjasama (Cooperation) merupakan suatu  usaha  bersama  antara  orang  perorangan  atau  kelompok  manusia  untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.  Berdasarkan uraian diatas, peneliti  tertarik untuk mengangkat  tema waria menjadi  bahan  penelitian  dalam  mengetahui  bagaimana  bentuk  kerjasama

Volume 05, No 2 16-20


(Cooperation)  pada  interaksi  sosial  seorang  waria  khususnya  dilingkungan masyarakat dimana ia tinggal.

Pengertian Kerjasama.
Kerjasama  dimaksudkan  sebagai  suatu  usaha  bersama  antara  orang perorangan  atau  kelompok  manusia  untuk  mencapai  satu  atau  tujuan  bersama (Soekanto, 1990). Kerjasama (cooperation) adalah suatu usaha atau bekerja untuk mencapai suatu hasil (Baron & Byane, 2000).
 Kerjasama  (Cooperation)  adalah  adanya  keterlibatan secara  pribadi diantara kedua belah pihak dami tercapainya penyelesaian masalah yang dihadapi secara optimal (Sunarto, 2000). Berdasarkan  uraian  diatas  dapat  ditarik  kesimpulan bahwa kerjasama (Cooperation)  adalah  suatu  usaha  bersama  antara  orang  perorangan  atau kelompok  diantara  kedua  belah  pihak  manusia  untuk  tujuan  bersama  dan mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik.

Bentuk-bentuk Kerjasama
Dalam  teori  sosiologi  akan  dijumpai  beberapa bentuk kerjasama (Cooperation). Lebih  lanjutnya  kerjasama  dapat  dibedakan  dalam  kerjasama spontan (spontaneouscooperation), Kerjasama  langsung  (directed  cooperation), Kerjasama kontrak  (contractual  cooperation),  Serta  kerjasamatradisional (traditional cooperation), (Soekanto,1990).

Dasar Kerjasama
Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam menjalani kehidupannya manusia akan dihadapkan pada suatu dilema sosial. Oleh karenanya dibutuhkan kerjasama dalam menjalani kehidupannya (Baron & Byane, 2000)

Faktor Yang Mempengaruhi Kerjasama
Faktor yang mempengaruhi kerjasama diantaranya yaitu hal  timbal balik, orientasi individu, dan komunikasi.
a.  Hal timbal balik
b.  Orientasi individu
c.  Komunikasi

Pengertian Interaksi Sosial Menurut Soekanto (2002), interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial  yang  dinamis  menyangkut  hubungan  antara  orang-orang  perorangan. Antara  kelompok-kelompok  manusia,  maupun  antara  orang  perorangan  dengan kelompok manusia.



Universitas Putra Indonesia “Padang”


Faktor Terjadinya Interaksi Sosial Interaksi sosial diklasifikasikan kedalam empat faktor, yaitu :
a.  Faktor Imitasi
b.  Faktor Sugesti
c.  Faktor Identifikasi

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial Interaksi  sosial  terjadi  apabila  memenuhi  dua  syarat  (Soekanto,  2002),
yaitu:
a.  Adanya kontak sosial (Social contact)
b.  Adanya komunikasi

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk  interaksi  sosial  dapat  berupa  kerjasama  (cooperation), persaingan  (competition)dan  bahkan  dapat  juga  berbentuk  pertentangan  atau pertikaian (conflict), (Soekanto, 2002).

Pengertian Waria
Dalam  pengertian  umum  waria  adalah  seorang  laki-laki  yang  berdandan dan berlaku  sebagai  wanita.Waria  dapat  dikatakan  sebagai  homoseksual  secara fisik.  Waria  adalah  seseorang  yang  berasumsi  bahwa  mereka  merasa  dirinya adalah  perempuan  sehingga  harus  berpenampilan  sebagai  perempuan  (Marwa, 2005) .
Ningsih (dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1998) menyatakan waria kependekan dari wanita pria, pria yang berjiwa dan bertingkah laku, serta mempunyai perasaaan seperti wanita.

Penyebab Timbulnya Waria
Menurut sebagian orang, penyebab utama seseorang menjadi waria adalah lingkungan.  Pengaruh  atau  penyebab  itu  berjalan  dibawah  sadar  ketika  orang tersebut  masih dalam  usia  masih  relatif  muda  (0-5  tahun)  pemahaman  tadi bersumber dari teori Freud (1982).
Tanda-tanda untuk mengetahui adanya masalah identitas dan peran jenis seorang waria menurut Tjahjono (1995), yaitu :
a.    Individu menampilkan identitas lawan j                      jenisnya secara kontinyu.
b.    Memiliki keinginan yang kuat berpakaian sesuai dengan lawan jenisnya.
c.    Minat-minat dan perilaku yang berlawanan dengan lawan jenisnya.
d.    Penampilan fisik hampir menyerupai lawan jenis kelaminnya.
e.    Perilaku individu yang terganggu peran jenisnya seringkali menyebabkan ditolak di lingkungannya.
f.     Bahasa tubuh dan nada suara seperti lawan jenisnya.

Mengutip  teori  Stoller, Adikusumo  (1984) mengatakan  bahwa  ini (maksudnya  laki-laki  yang  kewanita-wanitaan)  bisa  terjadi  karena  si  ibu  terlalu dominan dalam diri si anak, ketimbang sang ayah yang pasif.

Menurut Tjahjono (1995), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya waria yaitu:

a.                    Anak laki-laki yang dibesarkan tanpa ayah atau dibesarkan tanpa kehadiran ayah selama periode waktu yang panjang menunjukkan minat-minat, sikap-sikap dan perilaku feminin.
b.                    Hubungan yang terlalu dekat antara anak dengan orangtua yang berlawanan dengan jenis kelaminnya. Anak dan orangtua cenderung memiliki kontak yang sangat intim baik secara fisik maupun secara psikis, dan orangtua sering melaporkan adanya suatu hubungan “yang tidak dapat dipisahkan”. Anak hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk mengidentifikasi orangtua yang sama dengan jenis kelaminnya dan kurang mengembangkan perilaku-perilaku sesuai dengan peran jenisnya.
b.                    Beberapa orangtua, menginginkan anak dengan jenis kelamin yang lain, sehingga berusaha menjadikan anak laki-laki bersikap seperti perempuan yang lembut, yang tidak pernah dimilikinya.
c.                    Seorang ibu yang membenci dan iri terhadap kejantanan, membentuk perilaku yang kurang jantan pada anak laki-lakinya. Ibu mungkin mengasosiasikan maskulinitas dengan kekerasan fisik dan agresifitas, penyalahgunaan seksual dan kekasaran. Ia lebih suka anak laki-lakinya lembut.
d.                    Pengaruh-pengaruh genetik atau hormonal. Dari perspektif medis, pada waria ini terdapat kemungkinan disebabkan oleh presdisposisi hormonal, hormon faktor-faktor endokrin (kelenjar) konstitusi pembawaan, dan beberapa diantaranya basis biologis pada masa prenatal atau masa didalam kandungan.

Metode Penelitian
Menurut Namawi (1985), studi kasus adalah penelitian yang memusatkan diri  secara  intensif  terhadap  suatu objek  tertentu. Unit  sosial  yang diteliti dalam penelitian ini adalah seorang waria.
Dalam penelitian ini metode studi kasus digunakan agar mendapat gambaran yang menyeluruh dan mendalam tentang bentuk kerjasama pada interaksi sosial waria. Melalui studi kasus dapat dilihat dengan jelas dinamika tentang bentuk kerjasam (cooperation) interaksi sosial waria.


Karakteristik Subjek
Karakteristik subjek dalam penalitian ini adalah seorang waria yang berusia 25  -35 tahun.  Subjek  mulai  merasakan  ada kelainan  dalam  dirinya  sejak  ahqil balig tepatnya sejak subjek menduduki bangku SMP.

Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap utama dilakukan dalam penelitian adalah :
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a.                                                                                                                                                                                            Tahap persiapan alat
b.                                                                                                                                                                                            Tahap pemilihan subjek penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
Penelitian  dilaksanakan  sesuai  dengan  jadwal  yang  sudah  ditetapkan
dengan  aktivitas  subjek,  dan  dilakukan  sesuai  dengan  tempat  dan  waktu  yang
telah  disepakati  bersama.  Wawancara  yang  dilakukan  sesuai  dengan  pedoman
wawancara yang telah dibuat sebelumnya .

Teknik Pengumpulan Data
Pada  pendekatan  kualitatif  terdapat  beberapa macam  teknik  pengumpulan
data,  seperti  :  etnografi,  studi  kasus,  observasi,  wawancara,  analisis  terhadap
karya    (tulisan,  flim, karya  seni), analisis dokumen, analisis  catatan pribadi, dan
sebagainya (Poerwandari, 2001).
Poerwandari (1998) memaparkan bahwa kedua metode ini yaitu wawancara
dan  observasi  merupakan  metode  dasar  yang  umumnya  dipakai  dan  dilibatkan
dalam tipe-tipe penelitian kualitatif.


Alat Bantu Pengumpulan Data
Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
1. Pedoman Wawancara
2. Pedoman Observasi
3.Tape Recorder

Keabsahan dan Keajegan Penelitian
Untuk  memperoleh  hasil  penelitian  kualitatif  yang  dapat  dipercaya, diperlukan data  yang  teruji. Menurut Moeloeng  (2000)  triangulasi  adalah  teknik pemerikasaan keabsahan data yang dimanfaatkan sesuatu yang  lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data.

Hasil dan Analisis
Subjek  adalah  seorang  yang  berjenis  kelamin  laki-laki  tetapi  bertingkahlaku seperti wanita yang memiliki tinggi badan 169 cm dengan berat badan 50kg,rambut  ikal,  warna  kulit  putih.  Subjek  cukup  dekat  dengan  orang-orang disekeliling  tempat  tinggalnya.  Subjekpun  cukup  memberikan  kontribusi  yang baik dilingkungan sekitarnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan serta  mematuhi  aturan  yang  ada. Meskipun  subjek  merupakan  kaum  minoritas tetapi  subjek  cukup  dekat  dengan  orang-orang  disekeliling  tempat  tinggalnya.
Subjek  cukup  memberikan  kontribusi  yang  baik  pada  lingkungannya  dengan
selalu  mengikuti  kegiatan  gotong  royong  ataupun  kerjabakti  yang  dilakukan




dilingkungan tempat tinggalnya.Significant Other 1 adalah kakak angkat dari subjek.   Significant  Other  1 memiliki  tinggi  badan  kurang  lebih  147  cm  dengan  bentuk  tubuh  sedikit  agak gemuk,  rambut  pendek,  kulit  sawo  matang.  Significant  Other  2  adalah  teman dekat  subjek.  Significant  other  2  memiliki  tingi  badan  kurang  lebih  167  cm dengan bentuk tubuh ideal, rambut pendek, warna kulit sawo matang.

Analisis Kasus
Kerjasama merupakan  suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok diantara kedua  belah pihak manusia demi  tercapainya  tujuan  bersama yang optimal.
Dalam  teori  sosiologi  akan  dijumpai  bebrapa  bentuk  kerjasama diantaranya  Kerjasama  spontan  (spontaneous  cooperation),  kerjasama  langsung
(directed  cooperation),  kerjasama  kontrak(contractualcooperation),kerjasama
tradisional (traditional cooperation) (Soekanto, 1990)Dalam menjalani  kehidupannya  subjek merupakan  kaum  yang minoritas.Tetapi  subjek mampu  berinteraksi dengan  lingkungan dimana  ia  tinggal. Subjekmelakukan  kerjasama  dilingkungannya  tanpa  mengharapkan  imabalan,  bahkan sebaliknya  subjek  sering  memberikan  sumbangan  baik  berupa  uang  maupun makanan.  Biasanya  ada  pemberitahuan  terlabih  dahulu  sebelum  melaksanakan kerjasama. Perintah untuk melaksanakan kerjabakti selalu ditanggapi dengan baik.
Subjek merasakan  adaya  timbal  balik  dari  lingkungannya.  Subjek  cukup puas dengan timbal balik yang diberikan lingkungannya terutama dengan diterima
dan diakuinya subjek menjadi warga dilingkungan tersebut. Dalam berkomunikasi subjek  tidak  memiliki  hambatan  sehingga  terjadi  hubungan  yang  saling menghargai tanpa melihat status kewariaanya.
Kesimpulan
Dapat  ditarik  kesimpulan  dari  penelitian  ini  bahwa  subjek  sebagai  kaum
minoritas  mampu  manjalankan  berbagai  macam  bentuk  kerjasama  dalam berinteraksi dengan lingkungan dimana ia tinggal. Subjek  melakukan  kerjasama  tanpa  megharapkan  imbalan.  Kerjasama
yang  sering  ia  lakukan  seperti  gotong  royong,  bersihin  got-got,  dan  mendapat
respon  yang  baik dari  lingkungannya. Subjek melakukan kerjasama  berdasarkan tujuannya  dan  ia  berprinsip  bahwa  melakukan  kerjasama  kerena  menginginkan respon  yang  baik untuk kepentingan bersama. Pada  setiap  tahunnya  subjek  turut serta  dalam  memeriahkan  HUT  RI  yang  dilaksanakan  dilingkungannya.  Dan dengan  mengikuti  acara  seperti  itu  subjek  dapat  bersosialisasi  dengan  warga setempat. Sebagai  kaum  minoritas  subjek  tidak  mengalami  diskriminalitas  dari lingkungannya. Semua kalangan dilingkungan tersebut dapat diajak kerjasama.. Ia berfikir  dengan  kerjasama  dapat  lebih  mempermudah  mencapai  tujuan  yang diharapkan.

Saran
Adanya beberapa saran yang dapat peneliti berikan untuk penulisan studi
kasus  ini  yang  hubungan  dengan  bentuk  kerjasama  (cooperation)  pada  interaksi sosial kaum minoritas (waria) dengan lingkungan tempat tinggalnya, yaitu :
1.    Jangan pernah ragu untuk melakukan kerjasama,  jika  ingin mendapatkan hasil yang optimal.
2.    Para waria yang  tergabung dalam organisasi agar  lebih meningkatkan kagiatan guna lebih bisa mengembangkan keterampilan agar dalam memnuhi kebutuhan hidupnya tidak lagi berkeliaran dijalanan.


DAFTAR PUSTAKA

Baron,  R  &  Byane  D.  (2000).  Social  psychology  ninth  edition.  Pinted  in  the
united State of America
Moloeng. (1998). Metodologi  penelitian. Bandung : Remaja Pusda karya.
Poerwandari,  E.  Kristi.  (2001).  Pendekatan  kualitatif  untuk  penelitian  perilaku
manusia. LPSP 3 : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Sari, N.  (1992).  Seri  diktat  :Permasalahan  pokok  yang  berkaitan  dengan waria.
Jakarta : BKKKS.
Ningsih, Harwati. (1998). Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya: Pustaka Anda
Soekanto,  S.  (2002).  Sosiologi  suatu  pengantar.  Edisi  4.  Jakarta  :  PT.  Raja
Grafindo Persada.
Tjahjono, E. 1995. Perilaku-Perilaku Seksual yang Menyimpang. Anima (Indonesia
Psychological Journal) Vol XI No. 41.
Yin, R. K. (2002). Studi kasus : Desaian dan metode. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.




0 komentar:

Posting Komentar